Translate

PENGIKUT

PROFIL SAYA

Foto saya
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Lahir di Palembang pada 25 April 1954. Sekarang berdomisili di Yogyakarta. Situs yg dikelola: 1.Halaman facebook "Nuansa Spiritual" (facebook.com/mharunnoengtjik); 2. Blogger "al-Qur'an dan Sains" (mharunn.blogspot.com); 3. Blogger "MHarunN's Tweet" (mhntweet.blogspot.com); 4. Blogger "Advokasi Hukum" (mharunn2.blogspot.com); 5. User Facebook "Muhammad Harun" (facebook.com/harunmhmmd); 6. User Twitter MHarunN (@MHarunN); 7. User You Tube "MHarunN"; dll.

Senin, 07 November 2011

Perputaran Bumi

astrocast.tv
Alquran dan Sains: Perputaran Bumi
Malam dan siang (ilustrasi).
 
Republika Online
Jumat, 15 Juli 2011 09:52 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Semenjak pertama kali manusia diturunkan ke muka bumi, ia berkeyakinan bahwa bumi—di mana ia tinggal di atas permukaannya—tidak bergerak atau stabil. Menurut dugaan mereka, benda langit yang bergerak adalah matahari, di mana gerakannya menyebabkan terjadinya malam dan siang dan pergantian antara keduanya.

Selanjutnya, dengan kemajuan sains dan teknologi, para ilmuwan melalui bantuan satelit-satelit buatannya yang dilengkapi alat pemotret dapat mengetahui posisi bumi yang sebenarnya dalam sistem tata surya.

Berdasarkan gambar yang diambil, mereka mendapatkan kesimpulan bahwa anggota tata surya seluruhnya bergerak secara terus-menerus. Matahari bergerak berdasarkan orbitnya dalam gugusan bima sakti. Planet-planet bergerak mengelilingi matahari sesuai dengan orbitnya, disamping berputar secara sendiri-sendiri.

Bumi sebagai salah satu planet yang berada dalam gugusan bintang matahari, ikut bergerak mengelilingi matahari yang menghabiskan waktu selama setahun, dan menyebabkan peristiwa perubahan musim yang empat; musim dingin, musim semi, musim panas dan musim gugur. Sebagaimana ia berputar dengan sendirinya yang menyebabkan terjadinya malam dan siang.

Gerakan bumi dan planet-planet yang lain, baik dalam garis edarnya sendiri atau dalam mengelili bintang yang lebih besar darinya tunduk pada hukum alamiah (baca: sunatullah) tertentu yang tidak mungkin terjadi karena suatu kebetulan. Semua benda langit saling terkait dengan benda langit yang lainnya karena adanya gaya gravitasi yang dimilikinya dan daya elektrik-magnetik yang melingkupinya.

Al-Qur'an secara menakjubkan telah mengisyaratkan gerakan bumi ini dalam berbagai ayatnya, salah satunya adalah ayat 88 surah An-Naml. Allah SWT berfirman: "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan."

Ayat di atas menunjukkan kepada persepsi keliru yang dianut sebagian orang yang berpendapat bahwa gunung-gunung itu diam dan tak bergerak. Dalam ayat ini, bahkan Allah SWT menegaskan bahwa gunung-gunung yang ada di muka bumi ini, seluruhnya bergerak dengan gerakan seperi gerakannya awan. Perumpamaan gerakan gunung dengan gerakan awan, dalam ayat di atas memiliki pengertian bahwa gerakan gunung tidak terjadi karena dirinya sendiri, tetapi ia bergerak karena ada yang menggerakannya, sebagaimana udara menggerakkan awan.

Bumilah yang telah bergerak, sehingga gunung-gunung yang ditancapkan di atasnya turut bergerak. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Qur'an dalam surah Yasin, ayat 40. Allah SWT berfirman: "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya."

Ayat di atas, menunjukkan bahwa malam tidak akan dapat mendahului siang. Sedangkan orang Arab pada waktu Al-Qur'an diturunkan mengatakan bahwa siang tidak akan dapat mendahului malam. Dalam ayat ini, Allah SWT tidak menafikan perkataan mereka, namun melengkapinya dengan menegaskan bahwa malam pun tidak dapat mendahului siang. Karenanya, maksud dari ayat itu, berarti terjadinya malam dan siang pada waktu yang bersamaan di atas permukaan bumi. Di mana hal ini tidak mungkin terjadi, kecuali jika bumi bergerak dan berputar. Disebabkan perputaran ini, terjadi pergantian malam dan siang.

Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Benda Langit yang tak Terlihat

   
ircamera.as.arizona.edu
Alquran dan Sains: Benda Langit yang tak Terlihat
Ilustrasi

Republika Online
Selasa, 12 Juli 2011 11:49 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Setiap benda yang terlihat tidak berarti bahwa benda itu saja yang eksis. Akan tetapi apa yang kita lihat adalah merupakan batasan dari kemampuan daya lihat kita. Karenanya, apa yang tidak dapat dilihat oleh mata luar adalah bukti keterbatasan kemampuan kita.

Selain itu, juga merupakan bukti kekurangan manusia dan kemustahilan dirinya untuk mengetahui semua hal yang tidak dilihatnya, kecuali jika Allah SWT berkehendak untuk memperlihatkannya.

Untuk dapat melihat setiap benda di jagad raya ini, kita harus berada pada suatu tempat yang memungkinkan kita untuk melihatnya, sehingga posisi benda itu berada pada hitungan jarak yang dekat dan tidak terlalu jauh. Karena kalau jaraknya jauh, seperti halnya benda-benda langit, kita tidak akan dapat melihatnya.

Disamping itu, benda tersebut harus memiliki besaran yang memungkinkan kita untuk melihatnya dengan mata luar kita. Karenanya kita tidak bisa melihat elektron dan proton yang terdapat pada nuklir, disebabkan bentuknya yang sangat kecil.

Dengan kemajuan sains, dewasa ini, manusia telah dapat mengatasi sebagian dari problema keterbatasan pandangannya, misalnya, dengan diciptakannya teleskop. Dengan alat bantu ini, manusia mampu untuk melihat benda yang berada pada jarak yang sangat jauh. Contoh lain, ditemukannya mikroskop yang digunakan untuk melihat benda yang berukuran sangat kecil.

Akan tetapi dengan adanya alat bantu ini, tidak dapat dipastikan bahwa manusia dapat melihat semua benda di alam raya ini, baik yang berjarak jauh maupun yang berukuran kecil. Karena di luar yang dapat mereka lihat dengan bantuan alat-alat canggih ini, akan tetap tersisa, banyak benda yang berjarak jauh dan berukuran kecil yang belum dapat dilihat oleh mereka.

Kalau sekiranya, manusia pada beberapa dekade ini telah banyak menemukan berbagai benda yang sebelumnya tidak dapat terlihat dengan jelas, namun berkat teknologi yang ditemukannya, mereka berhasil melihatnya.

Maka Al-Qur'an sejak 14 abad yang lalu telah memberikan petunjuknya berkaitan dengan benda yang tidak bisa terlihat, sebagaimana yang terdapat dalam surah Al-Haqqah ayat 38-39. Allah SWT berfirman: "Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat."

Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Penghamparan Bumi

oldearthsite.com
Alquran dan Sains: Penghamparan Bumi
Hamparan bumi

Republika Online

Kamis, 14 Juli 2011 11:12 WIB

Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Dalam bahasa arab, kata penghamparan disebut dengan ‘tamhid’. Yang dimaksud dengannya adalah mempersiapkan sesuatu agar layak untuk digunakan dan dimanfaatkan, dengan diawali serangkaian persiapan-persiapan, mulai dari yang primer sampai yang skunder. Dan cara pengungkapan sesuatu dengan menggunakan kata ‘al-mihad’ berarti validitasnya yang sempurna sehingga siap untuk digunakan.

Kondisi bumi pun, yang pada akhirnya berbentuk hamparan, sebelumnya diawali dengan serangkaian peristiwa geologi dan fisiokimia tertentu, di mana bumi pada pertama kalinya dingin. Kemudian setelah kadar panasnya stabil, mulai membentuk hingga tercipta bentuk akhirnya yang lonjong seperti telur.

Setelah itu, terjadi proses rumit kimiawi hingga bentuk luar bumi layak untuk ditumbuhi tumbuh-tumbuhan, di mana permukaan bumi menyediakan semua unsur yang dibutuhkan tumbuh-tumbuhan itu untuk hidup dan berkembang, berbuah dan berbunga.

Hakikat ilmiah di atas, secara ringkas diceritakan oleh Al-Qur'an dalam kalimat yang singkat namun padat dalam surah An-Naba ayat 6, Allah SWT berfirman: "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?"

Pada ungkapan ‘menjadikan’ yang terdapat pada ayat di atas, kita mendapatkan bahwa Allah SWT menggunakan kata ‘ja’ala’ yang mengisyaratkan bahwa bumi mengalami serangkaian proses hingga ia terhampar.

Sedangkan di ayat lain, kita mendapatkan penggunaan kata ‘khalaqa’ yang berarti penciptaan sesuatu sesuai bentuknya secara langsung. Tidakkah hal ini menunjukkan kemukjizatan Al-Qur'an dan kebenarannya?

Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Jumat, 04 November 2011

Ilmu Geologi (2)

http://apod.nasa.gov
Alquran dan Sains: Ilmu Geologi (2)
Permukaan bumi yang rusak di California, AS (ilustrasi)

Republika Online
Senin, 18 Juli 2011 09:59 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Selanjutnya, lapisan bebatuan yang terdapat di bumi, juga terdiri dari berbagai macam jenis unsur logam yang terbentuk karena proses gabungan beberapa unsur kimia dan fisika. Unsur logam ini terbagi dalam dua bagian. Pertama adalah logam silikat, di mana unsur utama pembentukannya adalah silikon ditambah dengan unsur-unsur kimia yang lain. Kedua logam  non-silikat di mana dalam unsur pembentukannya tidak terdapat unsur silikon.

Dalam pembentukan suatu jenis logam, unsur yang dibutuhkan bisa berjumlah satu atau lebih yang saling menyatu dengan suatu proses tertentu. Namun untuk membantu proses pembentukannya, setiap logam membutuhkan energi tertentu sehingga proses pemnbetukannya dimungkinkan. Dan pembentukan logam ini tidak bisa terjadi kecuali jika tingkatan energinya berada pada titik terendah.

Al-Qur'an telah memberikan isyaratnya berkaitan dengan bebatuan dan unsur logam yang terdapat pada lapisan bebatuan pembentuk bumi. Di antaranya, Al-Qur'an menyebutkan tentang pembentukan warna pada bebatuan yang terdapat di lapisan bumi yang berbentuk batu, yang mempunyai pengaruh pada warna logam  yang dikandungnya. Berdasarkan Al-Qur'an, pembentukan warna-warna bebatuan disebabkan oleh reaksi kimia, seperti larutan air, pencairan, zat hidrat dan zat asam karbon, dan seterusnya.

Dalam surah Fathir ayat 27 Allah SWT berfirman: "Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam macam jenisnya (warnanya). Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat."

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa sebab dari terbentuknya gunung yang berwarna putih atau merah adalah air. Dan ini adalah isyarat bahwa air mempunyai pengaruh dalam reaksi kimia yang menyebabkan warna pada bebatuan dan tambang.

Dalam bagian lain, Al-Qur'an memberikan isyaratnya pada surah Al-Hadid ayat 25. Allah SWT berfirman: "Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat." Ayat ini menyebutkan salah satu unsur terpenting yang terdapat pada lapisan bebatuan yang ada di dalam bumi, yaitu unsur besi.

Berdasarkan penelitian para ahli, pembentukan unsur besi mustahil terjadi di dalam perut bumi, karena dalam pembetukannya ia membutuhkan energi yang banyak dan sulit tersedia di dalamnya. Karenanya mereka menyimpulkan bahwa unsur besi telah terbentuk di planet lain yang di dalamnya tersedia energi yang memungkinkan pembentukannya. Kemudian unsur besi ini dibawa atau dipindahkan ke bumi dengan satu mekanisme yang tidak diketahui secara pasti.

Cara ungkapan Al-Qur'an dengan menggunakan kata ‘kami turunkan’ menjelaskan peristiwa turunnya unsur besi ini. Karena turunnya sesuatu tidak mungkin terjadi kecuali dari daratan tingi ke daratan rendah. Dan tingkat ketinggian dan kerendahan itu, tidak lain, melainkan tingkat ketinggian dan kerendahan energi yang dibutuhkan dalam pembentukan unsur besi.

Al-Qur'an dalam bagian lainnya menyebutkan fenomena alamiah lain yang berkaitan dengan lapisan bebatuan, yaitu apa yang biasanya disebut dengan lempengan tektonik. Dalam surah Ath-Thariq ayat 12 Allah SWT berfirman: "Dan bumi yang mempunyai ‘rekahan’."

Peristiwa rekahan yang terjadi di kulit bumi, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas, terjadi karena lipatan yang terjadi pada lempengan tektonik yang membentuk struktur bumi. Di mana lipatan ini berpengaruh kepada terbelahnya lapisan bebatuan yang ada di perut bumi dan terbentuknya lubang besar, sehingga tercipta palung besar yang membentuk lautan dan samudera. Contohnya palung yang terdapat di Laut Merah yang berasal dari lubang besar di daratan afrika.

Petunjuk lain yang disampaikan Al-Qur'an dan berkaitan dengan lapisan bebatuan yang terdapat di bumi adalah penjelasannya tentang pembagian ketebalan lapisan bebatuan tersebut. Berdasarkan pengamatan para ahli geologi dan geofisika, kesimpulan yang diambil menyatakan bahwa ketebalan yang terdapat pada bebatuan di bagian inti bumi lebih besar daripada yang terdapat pada bebatuan di bagian kulit bumi. Karenanya berat bumi terletak di intinya bukan di kulitnya. Dan penelitian para ahli juga memberi petunjuk bahwa bumi bisa menumpahkan isinya yang terdiri dari bebatuan-bebatuan besar ketika terjadi letusan gunung atau gempa yang dahsyat.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zilzalah ayat 1 dan 2: "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan bahan-bahan berat (yang dikandung)nya."

Hakikat ilmiah pertama yang terdapat dalam ayat di atas, adalah ketebalan lapisan bebatuan di bagian inti bumi dibandingkan dengan lapisan bebatuan yang terdapat di kulit bumi. Hakikat yang kedua adalah gelombang gempa yang dahsyat dapat menyebabkan bumi mengeluarkan kandungan batu-batu besar yang terdapat di dalamnya ke permukaan bumi.

Selanjutnya, selain beberapa hal yang telah disebutkan di atas, kita mendapatkan Al-Qur'an membicarakan beberapa petunjuk lainnya berkenaan dengan terdapatnya lapisan air yang terdapat di antara lapisan bebatuan pembentuk bumi bersama dengan lapisan udara yang terletak pada celah-celah di sekitar lapisan bebatuan yang ada. Lapisan air ini juga tersedia dalam jumlah yang lebih banyak di lautan, samudera dan sungai, sehingga membentuk permukaan air yang mengelilingi semua permukaan bumi.

Fungsi dari air ini sangat esensial sekali. Karena ia adalah salah satu unsur terpenting yang menyebabkan keberlangsungan kehidupan di muka bumi ini. Air bermanfaat membantu tumbuh-tumbuhan dalam perkembangannya untuk menghasilkan bahan makanan yang dimanfaatkan oleh hewan dan manusia. Ia juga bermanfaat dalam setiap proses kehidupan bagi segenap makhluk hidup yang terdapat di muka bumi ini.

Berdasarkan penelitian geologi, unsur air terbentuk setelah terlepasnya bumi dari matahari dalam bentuk gumpalan gas yang memiliki tingkat panas yang sangat tinggi. Kemudian bumi, setelah melalui proses tertentu menjadi dingin yang akibatnya menghasilkan lapisan bebatuan, gas dan air di dalamnya. Karenanya dikatakan bahwa air yang terdapat di planet bumi berasal dari bumi itu sendiri.

Al-Qur'an sejak 14 abad yang lalu telah mengisyaratkan hal ini dalam surah An-Naziat ayat 31. Allah SWT berfirman: "Dia memancarkan daripadanya (bumi) mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya."

Selanjutnya dalam bagian lain, Al-Qur'an menjelaskan tentang proses air yang terdapat di samudera dan lautan yang berubah dari bentuk cairnya ke dalam bentuk uap atau awan yang selanjutnya berubah menjadi tetesan air berupa hujan yang diturunkan ke bumi sehingga terbentuk sungai-sungai dan saluran-saluran air yang menyimpan air tawar. Sebagian dari air hujan ini meresap ke dalam perut bumi dan berkumpul menciptakan sungai-sungai yang terdapat di dalam perut bumi, atau naik ke arah permukaan bumi dalam bentuk sumur dan mata air.

Hakikat ilmiah ini dijelaskan oleh Al-Qur'an dalam surah An-Nur ayat 43. Allah SWT berfirman: "Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya."

Dan dalam surah An-Naml ayat 60 Allah SWT berfirman: "Dan Dia yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah."

Yang dimaksud dengan ‘menurunkan air untukmu dari langit’ adalah turunnya hujan dari awan ke permukaan bumi, untuk menghidupkan bumi sehingga ia dapat mengeluarkan berbagai tumbuhan dengan buah-buahannya yang beraneka ragam jenis dan warnanya.

Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Ilmu Geologi (1)

cas.utpb.edu
Alquran dan Sains: Ilmu Geologi (1)
Ilustrasi
 
Republika Online
Minggu, 17 Juli 2011 22:35 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Yang dimaksud dengan Ilmu Geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan pengamatan struktur batu-batuan yang ada di dalam bumi dan bentuk-bentuknya serta rekahan batu-batuan tersebut dan pengaruhnya. Sebagai sebuah ilmu, ia memiliki dasar dan cabang-cabangnya yang banyak. Namun yang akan menjadi perhatian kita dalam pembahasan ini adalah isyarat ilmiah yang terdapat pada beberapa ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan kondisi geologi bumi. Penelitian yang dilakukan para ahli geologi, salah satunya berkaitan dengan struktur bumi yang memiliki tingkat ketinggian tertentu seperti gunung. Dari penelitian tersebut, didapatkan bahwa berdasarkan geomorphologi, gunung memiliki fungsi sebagai pasak yang menancapkan bumi di jagat alam raya ini. Di mana puncak gunung menjadi penahan keseimbangan bumi dari arah atas. Dan bagian yang  menancap di kedalaman bumi atau bagian akarnya menjaga keseimbangannya dari arah bawah dan berhubungan dengan inti bumi. Dengan adanya gunung-gunung ini, keseimbangan bumi dapat terjaga, sehingga bumi tidak terlalu condong ke salah satu arah di tengah-tengah alam raya yang melingkupinya. Karenanya kita mendapatkan penyebaran gunung-gunung di bumi ini yang tampak teratur pada semua bagian dari permukaan bumi. Kita mendapatkan, di salah satu belahan bumi terdapat banyak dataran tinggi, sedangkan di tempat lain terdapat banyak dataran rendah.    Demikianlah fungsi dari gunung-gunung ini. Dan hal ini, telah diisyaratkan Al-Qur'an dalam surah An-Nahl ayat 15. Allah SWT berfirman: "Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu." Dengan memerhatikan ayat ini, kita mendapatkan ketelitian cara pengungkapan Al-Qur'an dalam memilih kata-kata yang dipergunakannya. Penggunaan kata ‘alqaa’, menunjukkan adanya peristiwa pemindahan materi-materi pembentuk gunung, baik yang berasal dari dasar bumi, lalu mengendap di permukaannya, maupun dari salah satu bagian dari permukaan bumi yang terbawa ke permukannya di bagian lain. Contoh dari pemindahan yang terjadi dari dasar bumi ke permukaannya, terdapat pada gunung merapi yang menyemburkan lava dari kawahnya. Adapun contoh dari gunung yang terbentuk karena endapan yang terjadi di permukaan bumi, maka hal itu bisa diakibatkan karena kelapukan dan pengikisan, yang diiringi oleh serangkaian proses perubahan alami dan kimiawi sehingga endapan itu menjadi keras dan terkumpul menjadi materi pembentuk gunung. Penggunaan kata ‘an tamida bikum’ menjelaskan fungsi gunung dalam menekan dan mengontrol gerakan bumi sehingga keseimbangannya di tengah-tengah jagat raya ini terjaga. Inilah petunjuk Al-Qur'an yang menjelaskan tentang fungsi gunung-gunung. Di bagian lain, terdapat juga ayat Al-Qur'an yang menunjukkan adanya daratan rendah di permukaan bumi. Sebagai contoh, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an adalah wilayah tempat terjadinya peperangan (sebelum peperangan terakhir) antara pasukan Romawi dan Persia, yaitu lembah sungai Yordania, di mana pasukan Persia memperoleh kemenangan. Penelitian yang dilakukan oleh para ahli geologi menunjukkan bahwa lembah sungai Yordania pada saat itu, merupakan daratan terendah, dibandingkan daerah lain di belahan bumi ini. Inilah yang disinggung Al-Qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 1-3. Allah SWT berfirman: "Alif Laam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat (terendah) dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang." Selanjutnya di bagian lain, Al-Qur'an mengisyaratkan bahwa bumi diliputi suatu lapisan gas yang menjaganya dari pengaruh langsung sinar matahari. Di mana pengaruh lapisan ini dapat kita rasakan secara langsung dalam kehidupan kita. Lapisan gas yang dimaksud adalah atmosfir bumi, yang mengelilingi seluruh permukaan planet bumi di mana kita hidup ini. Karena adanya lapisan atmosfir ini, Al-Qur'an mengungkapkan bahwa manusia, hidup di bumi, bukan di atas bumi. Karena kalau kita hidup di atas bumi maka permukaan kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi. Dan ini tentunya bertentangan dengan realitas alam, dengan adanya atmosfir bumi yang mengelilingi semua permukaan bumi dengan kekuatan gaya gravitasinya. Apa yang disampaikan di atas, telah dijelaskan oleh Al-Qur'an dalam surah Ar-Rum ayat 9. Allah SWT berfirman: "Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi." Tentang sifat dari atmosfir, Al-Qur'an dalam salah satu ayatnya telah menjelaskan hal ini, yaitu makin tinggi meninggalkan permukaan bumi, maka tekanan udara pada ketinggian tersebut makin berkurang. Dan itu berpengaruh pada kemampuan benda-benda hidup seperti manusia untuk bernafas pada ketinggian tersebut, dikarenakan saluran pernafasannya terganggu karena persediaan oksigen yang menipis. Bahkan akibat dari persediaan oksigen yang sedikit itu, bisa mengakibatkan manusia seperti tercekik atau ia akan mati. Allah SWT berfirman dalam surah Al-An’am ayat 125: "Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." Yang dimaksud dengan ‘dadanya yang sempit’ adalah terjadinya kekurangan oksigen pada saluran pernafasannya. Dan pengumpaan-Nya dengan pendakian ke langit, hal itu menunjukkan kurangnya persediaan oksigen pada ketinggian tertentu pada lapisan atmosfir bumi. Dalam surah Ath-Thariq ayat 11, Al-Qur'an menyebutkan sifat lain dari atmosfir ini. Allah SWT berfirman: "Demi langit yang dapat mengembalikan." Kalimat ‘dzatu ar-raj’i’, mengandung arti bahwa atmosfir memiliki daya untuk melindungi bumi, sekaligus memantulkan kembali gelombang elektronik yang membenturnya ke permukaan bumi. Kondisi ini dimanfaatkan manusia untuk membuat radio yang memanfaatkan energi gelombang udara. Dan umumnya, manfaat dari atmosfir ini, juga digunakan secara lebih luas dalam bidang telekomunikasi. Selain dari hal di atas, Al-Qur'an juga membicarakan tentang lapisan bebatuan yang menjadi unsur terpenting bagi struktur pembentukan bumi. Lapisan ini memanjang, mulai dari permukaan bumi sampai ke dalam perut bumi, yang terdiri dari berbagai macam tingkatan bebatuan yang memiliki unsur fisika dan kimia tertentu. Tingkatan kondisi batu tersebut terdiri dari berbagai macam batu-batuan yang secara garis besar terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu batu api atau batu bara, yang terbentuk dari magma yang mencuat dari dasar bumi kemudian membeku menjadi batu api. Dan terkadang magma ini juga bisa muncul ke permukaan bumi dan menjadi batu api yang terdapat di bagian atas bumi. Kelompok kedua adalah batu endapan yang terbentuk karena endapan unsur-unsur batu yang terjadi melalui proses pengikisan dan pelapukan karena pengaruh udara atau air. Batu endapan ini, karena pengaruh dari pelapukan yang terjadi, terbagi ke dalam batu endapan mekanik yang terbentuk karena faktor endapan mekanik—seperti sungai, dan lautan—dan batu endapan kimiawi yang terbentuk karena proses endapan zat kimia tertentu—seperti karbonat kalsium—dan batu endapan biokimia yang terbentuk karena pengaruh makhluk-makhluk hidup yang memiliki bentuk yang sangat kecil dan rumit. Jenis ketiga adalah metamorfik atau batu yang bentuknya dapat berubah-ubah karena pengaruh tekanan udara atau panas atau pengaruh keduanya. Batu-batuan jenis ketiga ini, pada awalnya berasal dari jenis batu api dan batu endapan.

Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Sekat antara Dua Jenis Air

http://www.kaheel7.com
Alquran dan Sains: Sekat antara Dua Jenis Air
Ilustrasi
 
Republika Online
Selasa, 19 Juli 2011 10:44 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Air merupakan wilayah yang meliputi kira-kira 75 persen dari luas permukaan bumi. Di mana air laut (air asin) memiliki kuantitas yang lebih banyak dibandingkan dengan air tawar. Namun keduanya berasal dari sumber yang sama setelah melewati beberapa proses yang secara terus-menerus berputar.

Perputaran kedua air tersebut, dimulai dengan menguapnya air yang terdapat di lautan dan samudera. Sehingga air yang pada mulanya berupa zait cair berubah menjadi zat uap yang saling menumpuk dalam bentuk awan yang selanjutnya menjadi tetesan air yang jatuh ke bumi dalam sebagai hujan yang jatuh di lautan, samudera, sungai-sungai dan seluruh permukaan bumi di wilayah tertentu di mana hujan tersebut turun.

Kedua jenis air ini merupakan unsur terpenting bagi keberlangsungan hidup benda-benda yang ada di permukaan bumi dalam proses kehidupan mereka.

Air asin yang merupakan bagian terbesar dari keseluruhan air yang ada di bumi, terdapat di samudera, lautan dan danau-danau. Samudera yang ada di bumi ini terbagi menjadi tiga; Samudera Pasifik, Samudera Hindia, dan Samudera Atlantik.

Wilayah perairan ini saling berhubungan antara salah satu laut dengan salah satu samudera. Misalnya Laut Tengah yang menyatu dengan Samudera Atlantik, Laut Merah yang menyatu dengan Samudera Hindia. Sebagaimana hal ini terjadi antara satu laut dengan laut yang lain. Semisal Laut Adriatika yang menyambung dengan Laut Putih (Laut Tengah).

Dan yang menakjubkan, perpaduan ini tidak hanya terjadi antara air asin dengan air asin, tapi juga antara air tawar dengan air asin. Seperti yang terjadi antara Sungai Nil yang mengalir ke Laut Tengah. Dan banyak lagi sungai yang terdapat di benua Amerika yang mengalir ke Samudera Pasifik dan Atlantik.

Pertemuan antara dua titik perairan yang asin dan tawar, telah menimbulkan banyak pertanyaan bagi para ilmuwan: Apakah salah satu dari dua air tersebut bisa memengaruhi yang lainnya? Berapa persen tingkat kemurnian kedua jenis air  tersebut ketika keduanya bertemu di satu titik? Apakah dimungkinkan pengontrolan titik pertemuan antara keduanya?

Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan atas beberapa pertanyaan di atas, para ilmuwan telah banyak mengadakan penelitian dan pengamatan. Sebagai hasil awal dari penelitian yang mereka lakukan, disimpulkan bahwa di antara dua titik pertemuan kedua jenis air, kemungkinan besarnya terdapat suatu batas area tertentu yang berfungsi untuk mencegah pencampuran antara keduanya, sehingga masing-masing terjaga kemurniannya.

Namun seiring dengan kemajuan pada bidang hedrologi dan penggunaan media elektronik dan magnetik, para ilmuwan, telah dapat memastikan bahwa sebenarnya pertemuan kedua bagian yang berbeda dari ke dua jenis air inilah yang telah menghasilkan suatu ‘wilayah perbatasan’ tertentu yang berfungsi untuk mencegah percampuran kedua jenis air, secara terus-menerus dan tidak berhenti.

Sebagian ilmuwan menjelaskan bahwa ‘wilayah perbatasan’ itu terjadi karena efek listrik dan magnetik yang saling berlawanan sehingga tercipta sekat antara bagian tengah dari kedua perairan.

Jika kita memerhatikan ayat Al-Qur'an, maka kita akan mendapatkan bahwa Al-Qur'an telah memberikan isyarat atas fenomena ini, dalam surah Ar-Rahman ayat 19 dan 20. Allah SWT berfirman: "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing."
Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Kamis, 03 November 2011

Proses Terciptanya Awan

my.opera.com
Alquran dan Sains: Proses Terciptanya Awan
Awan yang berarak lalu berkumpul dan menurunkan hujan.  

Republika Online
Rabu, 20 Juli 2011 10:50 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Awan yang terdapat di langit, pada mulanya terbentuk dari air yang berada di permukaan bumi yang mengalami penguapan. Setelah terbentuk, awan ini digiring oleh angin dari tempat penguapannya ke tempat pengendapannya atau ketempat di mana ia akan dicurahkan sebagai hujan.

Kecepatan angin yang menggiring awan lebih cepat dari awan itu sendiri. Angin ini berfungsi untuk mengumpulkan gumpalan-gumpalan awan yang satu dengan yang lainnya sehingga terhimpun di satu wilayah tertentu di kawasan atmosfir bumi. Di mana di tempat ini terdapat arus udara yang menekannya dari arah bawah gumpalan awan tersebut, dan terdapat butiran-butiran es dari arah atas dan bulir-bulir air dari bawahnya.

Awan yang telah terhimpun di suatu tempat, tidak hanya terhimpun karena proses pertemuan antara beberapa gumpalan awan yang dibawa oleh angin. Namun hal itu juga disebabkan arus dan aliran listrik yang terdapat pada awan-awan tersebut, baik arus positif maupun arus negatif, di mana pertemuan kedua arus, mengakibatkan percikan listrik yang berpengaruh pada awan.

Proses terhimpunnya awan ini terbentuk dalam pola yang menumpuk, di mana awan yang telah terkumpul, masih terus ditambahi oleh awan yang berikutnya. Dan berdasarkan penelitian para ilmuwan, penumpukan awan ini berbentuk seperti gunung, di mana pada bagian bawah lebih luas daerahnya dan bagian atas lebih menyempit.

Pergesekan yang terjadi antara himpunan awan yang berbeda-beda dengan kilat sebagai percikan listrik mengakibatkan terjadinya suara halilintar yang menggelegar dan mengguncangkan siapa saja yang dekat dengan tempat kejadiannya, sebagai akibat dari gelombang suara yang memiliki tingkat frekwensi yang sangat tinggi. Suara halilintar ini sering terjadi, sambil mengiringi jatuhnya air hujan ke bumi.

Demikianlah proses terjadinya awan, halilintar dan hujan. Hakikat ilmiah ini, tidak diketahui secara pasti dan detail, kecuali setelah kemajuan pesat dalam bidang penelitian luar angkasa dan ilmu meteorologi.

Padahal Al-Qur'an sendiri, sejak 14 abad yang lalu, telah memberikan petunjuknya berkaitan dengan fenomena alam ini, dalam surah An-Nur ayat 43. Allah SWT berfirman: "Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan."

Dari ayat di atas, kita mendapatkan Al-Qur'an telah menjelaskan proses terciptanya awan dan proses pengumpulan awan-awan yang kecil sehingga menjadi gumpalan awan yang besar. Sebagaimana, ia juga menjelaskan tentang akibat dari himpunan gumpalan awan tersebut, yaitu terjadinya kilat dan halilintar dan bentuk dari gumpalan awan tersebut, yang berbentuk seperti gunung. Sebagaimana firman Allah SWT: "dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung".
Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Senin, 31 Oktober 2011

Akhir Alam Semesta

turbulentmind.wordpress.com
Alquran dan Sains: Akhir Alam Semesta
Ilustrasi
 
Republika Online
Kamis, 21 Juli 2011 09:54 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa benda-benda di jagad raya ini, pada mulanya satu, lalu tercerai-beraikan setelah terjadinya ledakan besar yang mengakibatkan keterpisahan antara satu benda dengan benda lainnya. Sehingga membentuk gugusan benda-benda langit yang terdiri dari galaksi, bintang, planet, satelit dan lain sebagainya.

Namun tentunya keseluruhan benda langit ini tidak mungkin akan terus ada tanpa ada batasnya. Bahkan secara pasti, dapat ditegaskan bahwa seluruh apa yang ada di alam semesta ini akan berakhir.

Para ilmuwan telah banyak melakukan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui akhir alam raya ini. Dalam melakukan penelitian tersebut, mereka menggunakan hitungan energi yang mendorong alam raya ini agar secara terus-menerus mengalami penambahan.

Penggunaan energi ini dimaksudkan untuk menciptakan pemuaian alam secara terus-menerus dengan batasan. Ia tidak boleh melampaui kuantitas penambahan energi yang telah ditentukan, yang dapat mengakibatkan alam raya ini meledak.

Penelitan yang mereka lakukan, menghasilkan dugaan bahwa suatu saat energi yang terdapat di alam raya ini akan melampaui batas keseimbangannya yang menyebabkan kehancurannya. Sebagaimana dulu, benda-benda yang ada di alam raya ini terbentuk setelah terjadinya ledakan besar, maka benda-benda ini juga akan hancur setelah terjadinya ledakan besar yang diakibatkan kekuatan energi yang melampaui batas kemampuannya.

Al-Qur'an telah menggambarkan akhir alam semesta ini yang menyerupai awal pembentukannya, sebagaimana yang terdapat pada surah Al-Anbiya ayat 104. Allah SWT berfirman: "(yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya."

Pengungkapan dengan menggunakan kata ‘Kami gulung langit’, adalah cara pengungkapan yang sangat teliti sekali yang dimaksudkan untuk menggambarkan penyusutan alam semesta ini, karena energi yang terdapat di dalamnya telah melebihi batasan yang telah ditentukan.

Al-Qur'an di bagian lain ayatnya, mengungkapkan penciptaan kembali alam semesta setalah ia melewati batas energi yang ditentukan. Allah SWT dalam surah Ibrahim ayat 48 berfirman: "(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit." 

http://facebook.com/mharunnoengtjik
Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah

Sabtu, 29 Oktober 2011

Kerusakan Sistem Alam Semesta

Alquran dan Sains: Kerusakan Sistem Alam Semesta
Ilustrasi

Republika Online
Jumat, 22 Juli 2011 09:28 WIB
Oleh: DR Abdul Basith Jamal & DR Daliya Shadiq Jamal

Sesungguhnya Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan suatu sistem dan mekanisme yang sangat mengagumkan sekaligus teliti dan detail. Sehingga keseimbangannya terjaga, meskipun di alam semesta ini selalu terjadi perubahan-perubahan yang tidak ada habis-habisnya.

Dan sekiranya dalam sistem keseimbangan itu, terdapat cacat atau kekurangan, maka dengan sistem yang telah ditentukan (baca: sunatullah), keseimbangan itu dengan sendirinya akan kembali tercipta. Karena sistem alam raya ini merupakan sistem yang selalu menjaga keseimbangannya secara otomatis, terbuka dan dinamis.

Proses terjaganya keseimbangan sistem yang mengatur alam semesta ini berlaku di semua tempat dan lingkungan. Baik di lingkungan benda-benda hidup ataupun di lingkungan benda-benda mati. Misalkan, di salah satu belahan bumi terdapat dataran rendah, maka di belahan lain terdapat dataran tinggi yang menyeimbanginya. Begitu juga pertumbuhan kuantitas salah satu makhluk hidup, diimbangi dengan pertumbuhan angka makhluk hidup lainnya yang menjadi musuhnya.

Yang dapat merusak sistem keseimbangan ini, hanyalah manusia dengan tindakan-tindakan yang diambilnya. Terlebih setelah tercapainya kemajuan pesat di bidang sains dan teknologi, nuklir, penjelajahan luar angkasa, rekayasa genetika, pemanfaatan sinar laser dan lain sebagainya.

Tindakan manusia ini telah banyak menyebabkan kerusakan pada sistem alam semesta ini, semisal polusi yang berakibat terjadinya ketimpangan-ketimpangan dalam lingkungan hidup mereka di muka bumi ini. Di antara ketimpangan itu adalah sebagai berikut:

1. Lubang pada lapisan ozonLubang yang terdapat pada lapisan ozon terjadi karena pengaruh zat kimia yang berasal dari banyak pabrik industri di permukan bumi ini yang telah melewati batasnya sehingga menembus lapisan ozon. Juga bisa disebabkan oleh asap pesawat jet yang menembus lapisan atmosfir bumi yang terdekat atau yang disebut dengan ionosfir.

Lubang yang terdapat pada lapisan ozon ini, bisa mengakibatkan temperatur udara menjadi tinggi dan panas, karena sinar ultra violet matahari dapat menerobos secara langsung dan mengenai bumi melalui lubang yang terdapat pada lapisan ozon ini. Hal ini sangat berbahaya, karena radiasi dari sinar ini, bisa menyebabkan manusia terkena kanker kulit, atau menyebabkan dua kutub yang dimiliki bumi mencair, atau dataran-daratan di muka bumi terancam tenggelam.

2. Tersebarnya penyakit yang diakibatkan polusiPolusi udara yang terjadi, dapat menyebabkan akibat buruk, bukan saja terhadap manusia, namun dapat menimpa makhluk hidup lainnya yang sama-sama mendiami planet bumi ini. Akibat buruk itu, adalah tersebarnya berbagai macam jenis penyakit, khususnya berkenaan dengan saluran pernapasan yang secara langsung dapat terpengaruh olehnya. Juga dapat berpengaruh pada paru-paru, tenggorokan, hati, jantung, aliran darah yang disebabkan polusi udara yang ditimbulkan asap mobil, asap pabrik dan asap rokok.

Kaitannya dengan benda-benda hidup yang lain, seperti binatang dan tumbuh-tumbahan yang sama-sama mendiami bumi bersama manusia, polusi udara ini dapat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya, hingga populasinya menurun. Sebagaimana polusi juga berakibat buruk pada lingkungan laut dan binatang-binatang yang terdapat di dalamnya.

Salah satu problema yang menjadi perhatian para ilmuwan adalah pencemaran minyak di sebagian perairan di dunia yang menyebabkan kematian berbagai jenis binatang laut dalam jumlah yang besar. Hal ini mendorong para aktivis lingkungan hidup untuk memikirkan solusi atas problema ini.

Untuk itu mereka memanfaatkan teknologi tinggi dengan menggunakan satu jenis bakteria yang dihasilkan dari rekayasa genetika yang memiliki manfaat dalam menguraikan cairan minyak yang mengambang di atas permukaan air laut. Namun sayangnya, apa yang mereka lakukan, ternyata mengandung akitab yang sama buruknya. Karena bakteria yang mereka ciptakan, ternyata mengandung zat racun yang dapat merusak tabiat air disamping menutupi penetrasi oksigen ke dalam air, padahal oksigen tersebut diperlukan bagi keberlangsungan binatang-binatang yang terdapat di laut.

Dari apa yang kami jelaskan di atas, polusi udara yang diakibatkan oleh penggunaan zat-zat kimia yang tidak ramah lingkungan dapat merusak kelestarian lingkungan tersebut. Dan hal ini, telah diperingatkan oleh Al-Qur'an dalam salah satu ayatnya yang terdapat pada surah Ar-Rum ayat 41. Allah SWT berfirman: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia."
Cara pengungkapan Al-Qur'an dalam mengaitkan kerusakan yang terjadi dengan perbuatan manusia, menunjukkan bahwa kerusakan yang terdapat pada sistem alam semesta ini terjadi ketika manusia melakukan campur tangan di dalamnya, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan oleh perbuatannya.
Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Al-Qur'an dan Sunnah



Minggu, 23 Oktober 2011

Tiga Tahapan Bayi dalam Rahim

Oleh: Harun Yahya

Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim


Dalam ayat ke-6 surat Az Zumar, disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam rahim ibu dalam tiga kegelapan. Embriologi modern telah mengungkap bahwa perkembangan ebriologi bayi terjadi pada tiga daerah yang berbeda dalam rahim ibu.
Dalam Al Qur'an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.
"... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (Al Qur'an, 39:6) 

Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:

"Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran." (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)
Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:
 
- Tahap Pre-embrionik
Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.

- Tahap Embrionik
Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.

- Tahap fetus
Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.

Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur'an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur'an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.

Segumpal Darah yang Menempel di Rahim

Oleh: Harun Yahya
Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim

Pada tahap awal perkembangannya, bayi dalam rahim ibu berbentuk zigot, yang menempel pada rahim agar dapat menghisap sari-sari makanan dari darah ibu. Gambar di atas adalah zigot yang terlihat seperti sekerat daging. Informasi ini, yang ditemukan oleh embriologi modern, secara ajaib telah dinyatakan dalam Al Qur'an 14 abad yang lalu dengan menggunakan kata "'alaq", yang bermakna "sesuatu yang menempel pada suatu tempat" dan digunakan untuk menjelaskan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.
Jika kita terus mempelajari fakta-fakta yang diberitakan dalam Al Qur'an mengenai pembentukan manusia, sekali lagi kita akan menjumpai keajaiban ilmiah yang sungguh penting.
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai "zigot" dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi "segumpal daging". Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur'an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur'an and Sunnah, s. 36)
Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur'an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata "'alaq" dalam Al Qur'an:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah." (Al Qur'an, 96:1-3)
Arti kata "'alaq" dalam bahasa Arab adalah "sesuatu yang menempel pada suatu tempat". Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.
Tentunya bukanlah suatu kebetulan bahwa sebuah kata yang demikian tepat digunakan untuk zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa Al Qur'an merupakan wahyu dari Allah, Tuhan Semesta Alam.

Air Susu Ibu

Oleh: Harun Yahya
Air susu ibu adalah suatu campuran ciptaan Allah yang luar biasa dan tak tertandingi sebagai sumber makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir, dan sebagai zat yang meningkatkan kekebalan tubuhnya terhadap penyakit. Bahkan makanan bayi yang dibuat dengan teknologi masa kini tak mampu menggantikan sumber makanan yang menakjubkan ini.
Setiap hari ditemukan satu manfaat baru air susu ibu bagi bayi. Salah satu fakta yang ditemukan ilmu pengetahuan tentang air susu ibu adalah bahwa menyusui bayi selama dua tahun setelah kelahiran sungguh amat bermanfaat. (Rex D. Russell, Design in Infant Nutrition, http:// www. icr.org/pubs/imp-259.htm)
Allah memberitahu kita informasi penting ini sekitar 14 abad yang lalu, yang hanya diketahui melalui ilmu pengetahuan baru-baru ini, dalam ayat-Nya "…menyapihnya dalam dua tahun…".
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Al Qur'an, 31:14)



Tahnik Bayi dan Kandungan Mukjizat Nabi

Tahnik Bayi Dan Kandungan Mukjizat Nabi

Islam telah memberikan perhatian yang besar dalam rangka menjaga anak anak dan ibu-ibu dalam setiap tahapannya dengan perhatian yang demikian tinggi yang tidak tertandingi oleh apa yang sudah dilakukan oleh PBB dan organisasi HAM dan WHO sekalipun.
Dalam Islam, anak tidak hanya dipelihara sejak setelah lahir semata, bahkan bahkan sejak seseorang berfikir akan menikah!!! Nabi saw telah bersabda agar kita memilih pasangan atau isteri yang shalihah (baik). Islam telah memberikan perhatian yang besar untuk keselamatan keturunan dan anggota keluarga agar menjadi kuat, tidak hanya secara akhlaq, bahkan dalam hal genetika tubuh dan kejiwaan. Pemeliharaan ini terus berjalan sampai mencapai masa kehamilan dan ketika hendak melahirkan, melahirkan, menyusui, dan tahapan pendidikan, serta perkembangan berikutnya. Diantara bukti perhatian Islam terhadap anak pada masa kelahiran adalah masalah Tahnik.
Sejumlah hadits tentang tahnik
Imam Bukhari dalam Shahih-nya men-takhrij hadits dari Asma’ binti Abi Bakr
Dari Asma’ binti Abu Bakr -semoga Allah meridhai keduanya- bahwa dirinya ketika sedang mengandung Abdullah ibn Zubair di Mekah mengatakan, “Saya keluar dan aku sempurna hamilku 9 bulan, lalu aku dating ke madinah, aku turun di Quba’ dan aku melahirkan di sana, lalu aku pun mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, maka beliau Shalallaahu alaihi wasalam menaruh Abdullah ibn Zubair di dalam kamarnya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam meminta kurma lalu mengunyahnya, kemudian beliau Shalallaahu alaihi wasalam memasukkan kurma yang sudah lumat itu ke dalam mulut Abdullah ibn Zubair. Dan itu adalah makanan yang pertama kali masuk ke mulutnya melalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, kemudianbeliau men-tahnik-nya, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam pun mendo’akannya dan mendoakan keberkahan kepadanya.
Dalam shahihain -Shahih Bukhari dan Muslim- dari Abu Musa Al-Asy’ariy, “Anakku lahir, lalu aku membawa dan mendatangi Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, lalu beliau Shalallaahu alaihi wasalam memberinya nama Ibrahim dan kemudian men-tahnik-nya dengan kurma.” dalam riwayat Imam Bukhari ada tambahan: “maka beliau SAW mendoakan kebaikan dan memdoakan keberkahan baginya, lalu menyerahkan kembali kepadaku.”
Penjelasan Ilmiah
Sesungguhnya kandungan zat gula “glukosa” dalam darah bayi yang baru lahir adalah sangat kecil, dan jika bayi yang lahir beratnya lebih kecil maka semakinkecil pula kandungan zat gula dalam darahnya.
Oleh karena itu, bayi prematur (lahir sebelum dewasa), beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, dimana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/100ml darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 ml.
Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 ml darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit:
1. Bayi menolak untuk menyusui;

2. Otot-otot melemas;

3. Berhenti secara terus-menerus aktivitas pernafasan dan kulit bayi menjadi kebiruan;

4. Kontraksi atau kejang-kejang;
Dan terkadang bisa juga menyebabkan sejumlah penyakit yang berbahaya dan lama, seperti:
1. Insomnia;

2. Lemah otak;

3. Gangguan syaraf;

4. Gangguan pendengaran, penglihatan, atau keduanya;

Kejang-kejang secara berkepanjangan dan kronis.
Apabila hal-hal di atas tidak segera ditanggulangi atau diobati maka bisa menyebabkan kematian. Padahal obat untuk itu adalah sangat mudah, yaitu memberikan zat gula yang berbentuk glukosa melalui infus, baik lewat mulut, maupun pembuluh darah.
Pembahasan
Sesungguhnya perbuatan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam men-tahnik bayi-bayi yang baru lahir dengan kurma setelah dilumatkan dan kemudian memasukkannya ke mulut bayi, kemudian men-tahnik-nya (mengolehkan lumatan kurma di langit-langit mulut) adalah memiliki hikmah yang agung. Sebab, kurma memiliki kandungan gula “glukosa” dalam jumlah yang banyak, khususnya setelah dilumatkan dimulut sehingga bercampur dengan air liur, diman air liur mengandungs ejumlah enzim khusus yangbisa mengubah glukosa menjadi gula asal. Air liur juga bisa melumatkan zat-zat gula. Sehingga bayi yang baru lahir bias mencerna kurma lembut itu dengan baik.
Dan karena mayoritas atau bahkan semua bayi membutuhkan zat gula dalam bentuk “glukosa” seketika setelah lahir, maka memberikan kurma yang sudah dilumat bias menjauhkan sang bayi -dengan izin Allah Subhannahu wa Ta’ala – dari kekurangan kadar gula yang berlipat-lipat.
Sesungguhnya disunnahkannya tahnik kepada bayi adalah obat sekaligus tindakan preventif yang memiliki fungsi penting yang sangat, dan ini adalah mukjizat kenabian Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam secara medis dimana sejarah kemanusiaan tidak pernah mengetahui hal itu sebelumnya, bahkan kini manusia tahu bahayanya kekurangan kadar glukosa dalam darah bayi.
Dan sesungguhnya bayi yang baru lahir, apalagi jika lahir premature, tanpa diragukan lagi sangat membutuhkan solusi cepat, yaitu memberikan zat gula. Dan rumah sakit-rumah sakit pun kini memberikan kepada bayi dan anak-anak glukosa agar dihisap oleh sang bayi atau anak kecil langsung setelah lahir, kemudian baru setelah itu, mulailah sang ibu menyusuinya.
Sesungguhnya hadits-hadits Nabi Shalallaahu alaihi wasalam yang mulia yang berkenaan dengan tahnik menjadi pintu pembuka cakrawala pengetahuan dunia dalam hal menjaga dan merawat anak atau bayi, khususnya bayi lahir premature.
Prematur adalah diantara penyakit yang sangat berbahaya, karena sang bayi memiliki kandungan kadar gula glukosa yang sangat kecil dalam darahnya. Jika diberikan kepadanya zat gula yang siap diserap olehnya, maka itu adalah solusi yang terbaik dan selamat dalam keadaan darurat semacam ini. Tahnik kurma juga sekaligus menjadi mukjizat kenabian Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam secara medis, padahal hal itu tidak pernah diketahui sebelumnya, baik pada zaman beliau hidup ataupun pada zaman-zaman sekarang, kecuali setelah dilakukannya sejumlah penelitian pada abad 20-an ini.

Sumber: Makalah Dr. Muhammad ‘Ali Al-Bari, dalam Majalah Al-I’jaaz Al-Ilmiy No. 04. (Abm) www.alsofwah.or.id

Sabtu, 22 Oktober 2011

Bekam sebagai Sebuah Pembuktian Ilmiah Kebenaran al-Hadist

Bekam: Sebuah Pembuktian Ilmiah Islam

“..Sesungguhnya sebaik-baiknya pengobatan yang kalian lakukan adalah Al-hijamah..” (HR. Ahmad, Shahih).
              Istilah Al-Himajah berasal dari Bahasa Arab yang berarti “pelepasan darah kotor” dan bukan Al Fashd (pembuang darah). Dalam Bahasa Inggris disebut dengan Cupping dan dalam Bahasa Indonesia disebut dengan Bekam, Kop, atau Cantuk. Terapi al-himajah merupakan salah satu terapi yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa hadist, Rasulullah SAW mengisyaratkan terdapat 72 macam penyakit yang dapat disembuhkan dengan berbekam, antara lain masuk angin, darah tinggi, kolesterol tinggi, stroke, jantung, asam urat, rematik, migrein, vertigo, sakit gigi, mata, asma, biduran, radang ginjal, dll. Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Kamu sekalian hendaklah berbekam pada tengah Qomahduwwah (punuk/tengkuk pada punggung badan), maka akan dapat menyembuhkan 72 penyakit” (Shohih Ibnu Majjah No.3478).
              Cara kerja serta manfaat dari terapi bekam telah banyak diteliti secara ilmiah oleh para ilmuwan di luar negeri. Salah satunya adalah Dr. Amir Muhammad Sholih (Dosen Tamu di Universitas Chichago, peraih penghargaan dalam bidang pengobatan natural dan anggota Organisasi Pengobatan Alternatif di Amerika). Amir mengemukakan sisi ilmiah terapi bekam dalam majalah Arab Al-Ahrom edisi 218-2001. Menurut Amir, terapi bekam terbukti bermanfaat karena merangsang titik saraf tubuh, seperti halnya terapi akupuntur. Namun, terapi akupuntur hanya menghasilkan perangsangan, sedangkan bekam juga menghasilkan pergerakan aliran darah selain perangsangan. Manfaat bekam juga dibenarkan oleh Dr.Ahmad Abdus Sami, Kepala Divisi Hepatologi Rumah Sakit Angkatan Darat Mesir. Di majalah Al-Ahrom, Ahmad berujar, “Unsur besi yang terdapat dalam darah manusia kadarnya berbeda-beda. Bisa berupa unsur panas yang dapat menyebabkan terhambatnya aktifitas sel-sel sehingga mengurangi imunitas terhadap virus. Oleh karena itu, pasien yang kandungan besi dalam darahnya tinggi akan mengalami reaksi pengobatan yang lebih lambat dibandingkan dengan pasien yang kandungan besi dalam darahnya rendah.” Risetnya juga membuktikan bahwa pembuangan sebagian darah seperti dalam terapi bekam terbukti mampu memulihkan reaksi pengobatan menjadi lebih cepat. Sehingga, bekam dapat diterapkan sebagai terapi pendamping pengobatan medis. Dr. Amir melakukan percobaan bekam tersebut pada pasien yang terinveksi virus hepatitis C dan memiliki kadar besi cukup tinggi dalam darahnya. Setelah pasien diterapi bekam dan diberi obat Interferon dan Riboviron, pasien kemudian memiliki reaksi positif dan kekebalan yang meningkat. Padahal, pasien hampir tidak bereaksi terhadap pengobatan medis tersebut sebelum dilakukan terapi bekam.
              Dalam pengantar buku Bekam Sunnah Nabi dan Mukjizat Medis, Dr. Wadda’ Amani Umar memberikan penjelasan berbeda tentang cara kerja bekam. Menurutnya, di bawah kulit dan otot terdapat banyak titik saraf. Titik-titik ini saling berhubungan antar organ sehigga bekam dapat tidak selalu dilakukan pada bagian tubuh yang sakit namun pada titik simpul saraf terkait. Pembekaman biasanya dilakukan pada permukaan kulit (kutis), dimana nantinya jaringan bawah kulit (sub kutis) akan mengalami “kerusakan” yang disertai dengan keluarnya darah akibat bekam. Keluarnya darah tersebut diikuti dengan keluarnya zat-zat berbahaya. Bekam juga dapat melancarkan mikrosirkulasi sehingga menimbulkan efek relaksasi pada otot dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, berdasarkan laporan umum penelitian tentang terapi bekam tahun 2001 M (300 kasus) dalam buku Ad Dawa’ul-Ajib yang ditulis oleh ilmuwan Damaskus, Muhammad Amin Syaikhu, didapat data sebagai berikut: (i) dalam kasus tekanan darah tinggi, tekanan darah dapat turun hingga mencapai batas normal, (ii) dalam kasus tekanan darah rendah, tekanan darah naik hingga batas normal, (iii) kadar gula darah turun pada pengidap kencing manis dalam 92,5 % kasus, (iv) jumlah asam urat di darah turun pada 83,68% kasus, dan (v) didapati bahwa eritrosit pada darah bekam yang keluar merupakan eritrosit yang berbentuk aneh, tidak berfungsi normal, dan menganggu kinerja sel lain.

Sumber: Artritis 1 IMC FSKI BEM KM FK Unand 2011-2012

Campuran dalam Air Mani

Oleh: Harun Yahya

Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.
Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur'an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:
"Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan." (Al Qur'an, 76:2)
Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari "bahan campuran" ini:
"Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina." (Al Qur'an, 32:7-8)
Kata Arab "sulala", yang diterjemahkan sebagai "sari", berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti "bagian dari suatu kesatuan". Ini menunjukkan bahwa Al Qur'an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

Kelahiran Manusia

Oleh: Harun Yahya

Terdapat banyak pokok persoalan yang disebutkan dalam Al-Qur'an yang mengundang manusia untuk beriman. Kadang-kadang langit, kadang-kadang hewan, dan kadang-kadang tanaman ditunjukkan sebagai bukti bagi manusia oleh Allah. Dalam banyak ayat, orang-orang diseru untuk mengalihkan perhatian mereka ke arah proses terciptanya mereka sendiri. Mereka sering diingatkan bagaimana manusia sampai ke bumi, tahap-tahap mana yang telah kita lalui, dan apa bahan dasarnya:

"Kami telah menciptakan kamu; maka mengapa kamu tidak membenarkan? Adakah kamu perhatikan (benih manusia) yang kamu pancarkan? Kamukah yang menciptakannya? Ataukah Kami yang menciptakannya?" (Al Qur'an, 56:57-59)

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya yang luar biasa itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci sehingga mustahil bagi orang yang hidup di abad ke-7 untuk mengetahuinya. Beberapa di antaranya sebagai berikut:

1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
    (spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.

Orang-orang yang hidup pada zaman kala Al Qur'an diturunkan, pasti mengetahui bahwa bahan dasar kelahiran berhubungan dengan mani laki-laki yang terpancar selama persetubuhan seksual. Fakta bahwa bayi lahir sesudah jangka waktu sembilan bulan tentu saja merupakan peristiwa yang gamblang dan tidak memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Akan tetapi, sedikit informasi yang dikutip di atas itu berada jauh di luar pengertian orang-orang yang hidup pada masa itu. Ini baru disahihkan oleh ilmu pengetahuan abad ke-20.

Pembentukan Tulang oleh Otot

Oleh: Harun Yahya

Tahapan-tahapan perkembangan bayi dalam rahim ibu dipaparkan dalam Al Qur'an. Sebagaiman diuraikan dalam ayat ke-14 surat Al Mu'minuun, jaringan tulang rawan pada embrio di dalam rahim ibu mulanya mengeras dan menjadi tulang keras. Lalu tulang-tulang ini dibungkus oleh sel-sel otot. Allah menjelaskan perkembangan ini dalam ayat: "…dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging".

Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur'an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.


"Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik" (Al Qur'an, 23:14)


Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur'an adalah benar kata demi katanya.


Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
 
Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:

Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)

Singkatnya, tahap-tahap pembentukan manusia sebagaimana digambarkan dalam Al Qur'an, benar-benar sesuai dengan penemuan embriologi modern.

Jumat, 21 Oktober 2011

Jenis Kelamin Bayi

Oleh: Harun Yahya


Hingga baru-baru ini, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh sel-sel ibu. Atau setidaknya, dipercaya bahwa jenis kelamin ini ditentukan secara bersama oleh sel-sel lelaki dan perempuan. Namun kita diberitahu informasi yang berbeda dalam Al Qur'an, yang menyatakan bahwa jenis kelamin laki-laki atau perempuan diciptakan "dari air mani apabila dipancarkan".
"Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan." (Al Qur'an, 53:45-46)
Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur'an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.
Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut "XY" pada pria, dan "XX" pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.
Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.
Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.
Tak satu pun informasi ini dapat diketahui hingga ditemukannya ilmu genetika pada abad ke-20. Bahkan di banyak masyarakat, diyakini bahwa jenis kelamin bayi ditentukan oleh pihak wanita. Inilah mengapa kaum wanita dipersalahkan ketika mereka melahirkan bayi perempuan.
Namun, tiga belas abad sebelum penemuan gen manusia, Al Qur'an telah mengungkapkan informasi yang menghapuskan keyakinan takhayul ini, dan menyatakan bahwa wanita bukanlah penentu jenis kelamin bayi, akan tetapi air mani dari pria.

Setetes Mani

Oleh: Harun Yahya


Selama persetubuhan seksual, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu. Sperma-sperma melakukan perjalanan 5-menit yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur. Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, yang berukuran setengah dari sebutir garam, hanya akan membolehkan masuk satu sperma. Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur'an :
"Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?" (Al Qur'an, 75:36-37)
Seperti yang telah kita amati, Al-Qur'an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.
Pada gambar di samping, kita saksikan air mani yang dipancarkan ke rahim. Dari keseluruhan sperma berjumlah sekitar 250 juta yang dipancarkan dari tubuh pria, hanya sedikit sekali yang berhasil mencapai sel telur. Sperma yang akan membuahi sel telur hanyalah satu dari seribu sperma yang mampu bertahan hidup. Fakta bahwa manusia tidak diciptakan dengan menggunakan keseluruhan air mani, tapi hanya sebagian kecil darinya, dinyatakan dalam Al Qur'an dengan ungkapan, "setetes mani yang ditumpahkan".

Kamis, 20 Oktober 2011

PERGERAKAN GUNUNG

Pergerakan Gunung
Oleh: Harun Yahya
Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.